Ada lagi kegiatan hiburan dan sosialisasi untuk menciptakan suasana hangat dan menyenangkan. Bentuknya berupa bernyanyi bersama, senam ringan, permainan tradisional, dan sesi bercerita santai. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana rekreasi bagi para lansia, tetapi juga berfungsi untuk menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan sosial mereka.
Kegiatan lainnya berupa aksi kreatif dan kolaboratif. Dalam beberapa sesi, para remaja dan lansia juga melakukan kegiatan kreatif bersama, seperti membuat kerajinan tangan, menanam tanaman obat keluarga, atau membuat makanan tradisional. Aktivitas semacam ini dapat meningkatkan semangat hidup lansia, sekaligus memperkuat nilai gotong-royong dan kerja sama antargenerasi.
Dzaskia meyakini gerakan Héman ka Sepuh ini memberikan manfaat besar, baik bagi remaja maupun lansia. Bagi remaja, mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman sosial yang berharga, tetapi juga pembelajaran nilai kehidupan yang tidak bisa didapatkan dari buku. Ini membantu membentuk karakter yang lebih peduli, hormat, dan bertanggung jawab.
“Sementara itu, bagi para lansia, program ini menjadi bentuk aktualisasi diri, di mana mereka merasa dihargai, didengar, dan tetap bisa berkontribusi kepada generasi yang lebih muda. Program ini juga berperan penting dalam mencegah isolasi sosial yang sering kali menjadi masalah di usia lanjut. Dengan terlibat aktif dalam komunitas, mereka dapat menjaga semangat hidup, mengurangi stres, dan meningkatkan suasana hati secara keseluruhan,” jelas Dzaskia.
Dia berharap ke depan gerakan Héman ka Sepuh dapat menjadi gerakan sosial yang lebih luas dan berkelanjutan di berbagai daerah di Indonesia. Dengan melibatkan lebih banyak sekolah, komunitas remaja, serta lembaga terkait seperti puskesmas, PKK, dan Karang Taruna, program ini bisa menjadi salah satu strategi nasional dalam mendukung Indonesia Ramah Lansia dan memperkuat nilai-nilai kekeluargaan dalam masyarakat.(N)








