Era Kontrasepsi Selesai, Mendukbangga / BKKBN Wihaji Minta Penyuluh KB Pahami Framework Kementerian

Mendukbangga

“Apa sih intinya? Intinya grand design ini kira-kira adalah memastikan kita mau ngapain dengan jumlah penduduk sekian. Contoh, DKI Jakarta dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta atau Jabar sebanyak 55 juta. Dalam _grand design_ kependudukan, maka dengan rumus tertentu, 55 juta penduduk Jabar harus disiapkan rumah sakitnya sekian. Tempat sampahnya sekian. Sekolah SD-nya sekian, SMP-nya sekian, SMA-nya sekian, perguruan tingginya sekian, jurusannya apa saja kita petakan. Pekerjaan apa saja yang dibutuhkan masyarakat Jawa Barat? Kemudian juga investasi apa yang akan ada di Jawa Barat? Itulah yang saya sebut dengan jalan atau peta jalan pembangunan kependudukan. Ini urus kependudukan adalah mengurus _frame_,” sambung Wihaji

Baca Juga  Dihadiri Presiden Jokowi, Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Achmad Daniel Chardin Kawal Pelaksanaan HPN 2023

Setelah kerangka atau _frame_ tebentuk, berikutnya adalah pembangunan keluarga. Jika grand design Pembangunan kependudkan menjadi frame, Wihaji menyebut pembangunan keluarga sebagai pekerjaannya _(work). Dengan demikian, frame dibuat dan work dikerjakan.

“Kalau frame saja tidak jalan, work tanpa frame juga enggak bisa. Frame tanpa work juga seperti enggak ada,” tegas Wihaji.

Dalam konteks pembangunan keluarga, papar Wihaji, maka yang dibangun adalah keluarga. Kemudian, dalam pembangunan hal paling penting adalah fondasi. Doktor manajemen ini meyakini fondasi yang mampu menopang bangunan kuat. Dalam kontek keluarga, fondasi keluarga dimulai dari hulu. Fondasi dalam keluarga dimulai dari kapan seseorang berkeluarga. Itulah fondasinya.

“Maka fondasi keluarga dimulai dari calon pengantin (catin) karena cikal-bakal sebelum menjadi keluarga adalah catin. Dari situlah kita akan bekerja memastikan supaya catinnya itu sesuai dengan apa yang menjadi rekomendasi kementerian kita. Umurnya cukup, kalau bisa 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Usia ini penting supaya nanti anak yang dilahirkan tidak stunting. Supaya nanti ekonominya lebih bagus. Supaya keluarganya nanti berkualitas. Ingat, setelah catin nanti akan jadi pasangan usia subur (PUS). Maka dia akan hamil,” papar Wihaji.

Pos terkait