Era Kontrasepsi Selesai, Mendukbangga / BKKBN Wihaji Minta Penyuluh KB Pahami Framework Kementerian

Mendukbangga

Hubungan sebab-akibat itu yang kemudian diakui Wihaji menjadi alasan lahirnya _quick wins_ Kemendukbangga. Lima _quick wins_ yang diusung Kemendukbangga merupakan jawaban atas masalah-masalah yang muncul selama siklus kehidupan bergulir. Adapun target yang harus disasar adalah 72 juta keluarga di Indonesia berdasarkan hasil Pendataan Keluarga 2024.

“Inilah Bapak/Ibu yang akan kita urus sebagai BKKBN, sebagai kementerian. Kadang orang bertanya, ‘Apa sih yang diurus kita ini semuanya masuk, semua yang diurus semuanya masuk?’ Bapak/Ibu, sektor-sektor yang tidak bisa diselesaikan oleh satu sektoral itulah yang kita urus. Contoh, kenapa stunting yang ngurus BKKBN, sebab stunting itu urusannya banyak. Karena urusan-urusan yang tidak bisa diurus oleh satu sektoral itulah kementerian kita yang ngurus siklus kehidupan dan kita satukan dari sektor-sektor itu,” urai Wihaji.

Baca Juga  Peringatan Hari Kanker Sedunia DP3AP2KB Kabupaten Bogor Selenggarakan Pelayanan KB MKJP

Menurut Wihaji, quick wins sejatinya bertumpu pada dua hal: mencegah dan mengubah perilaku. Dia mencontohkan sepeda motor. Tugas kementeriannya memastikan motor itu memiliki rem, gas, roda, bensin, dan lain-lain. Kemudian, sepeda motor tersebut sudah dilengkapi dengan surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan memiliki buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB).

“Dipastikan semua aman. Itu tugas kita. Tapi kalau di jalan kecelakaan, sudah bukan tugas kita. Tugas yang lain. Intinya, memastikan bahwa ibu hamilnya sehat sehat. Kemudian, asupan gizinya oke, kemudian apa lagi? Air bersihnya oke, sanitasinya oke, memastikan itu sehingga nanti ketika lahir aman, tidak stunting. Itu yang kita akan kerjakan,” jelas Wihaji.

Baca Juga  PSEL untuk Masa Depan Hijau Kota Bogor

“Dalam teori perilaku, menurut ilmu pengetahuan, dimulai dari knowledge dulu. Perilaku itu dimulai dari tahu. Setelah tahu baru muncul sikap. Setelah sikap baru muncul perilaku. Sikap yang diulang-ulang itulah menjadi perilaku. Pertanyaannya, adalah apakah yang kita kerjakan selama ini bagian dari merubah perilaku? Jawabannya gimana? Iya. Kita sendiri harus yakin, iya. Iya, memang iya,” tegas Wihaji.(*)

Pos terkait