“Indeks harapan hidup Kota Bogor berada di usia 75,8 tahun, alhamdulillah ini capaian yang cukup tinggi. Namun, dari pemeriksaan kesehatan gratis selama hampir delapan bulan, baru 31 persen warga yang memeriksakan kesehatannya. Dan dari angka itu, hampir 90 persen ternyata malas gerak,” ujar Dedie Rachim.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut sejalan dengan hasil Cohort Study tahun 2015–2020, yang menunjukkan empat penyakit tertinggi di Kota Bogor, yakni hipertensi, diabetes, kanker, dan jantung. Selain itu, dari studi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Kota Bogor jarang mengonsumsi buah dan sayuran yang berdampak pada asupan gizi yang kurang seimbang.
Oleh karena itu, Dedie Rachim menilai bahwa perubahan perilaku menjadi kunci utama pencegahan. Ia turut mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat budaya hidup sehat, khususnya melalui pemeriksaan kesehatan rutin, olahraga, dan konsumsi makanan bergizi.








