SANGA.ID. Dalam dunia akademik terkait filsafat klasik “adaequatio intellectus et rei” (kesesuaian antara pikiran dan kenyataan) sering dikutip untuk menjelaskan kebenaran empiris. Namun, di era digital, konsep itu kini menjadi sorotan tajam karena kesenjangan yang melebar antara “apa yang dipikirkan, apa yang diucapkan, dan apa yang nyata”.
*Kontroversi Narasi: Realitas vs Media Sosial*
Dalam studi penelitian dari Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 78% generasi Z merasa kenyataan yang mereka lihat di media sosial tidak mencerminkan kehidupan sehari-hari. Banyak yang terobsesi dengan citra sempurna, influencer, dan konten viral, sementara di sisi lain, pekerja informal dan buruh pabrik hidup di bawah tekanan ekonomi yang berat.
“Gap antara intellectus (pikiran yang terfilter algoritma) dan rei (realitas lapangan) semakin melebar, memicu krisis kepercayaan dan mental.” Ungkap Alma Wiranta








