BNN, menurut Suyudi, menjalankan lima fokus kebijakan strategis 2025–2029. Pertama, pencegahan melalui Sekolah Bersinar, Kampus Bersinar, dan pembentukan ribuan duta anti narkotika.
Kedua, pemberantasan yang tegas dan profesional. Ia membeberkan hasil operasi terpadu 5–7 November 2025 yang menjaring 1.259 tersangka dan menyita 126,3 kg sabu, 12,7 kg ganja, 1.428 ekstasi, uang tunai Rp1,54 miliar, serta puluhan senjata api dan tajam. “Kami akan intensifkan operasi di seluruh provinsi,” tegasnya.
Fokus ketiga adalah rehabilitasi yang humanis dan mudah diakses. Saat ini terdapat 865 fasilitas rehabilitasi IPWL di seluruh Indonesia, dengan 216 dikelola BNN dan 649 mitra berstandar SNI. Survei BNN–BRIN–BPS 2023 mencatat prevalensi penyalahgunaan narkotika 1,73% atau 3,3 juta penduduk, dengan 28,2% berada pada usia 15–24 tahun.
Di akhir paparannya, Suyudi mengajak mahasiswa untuk menjadi agen perubahan. “Perguruan tinggi adalah benteng terakhir bangsa. Jika kampus kuat, Indonesia kuat. Bersama, kita wujudkan generasi emas yang bebas dari narkotika,” pungkasnya.(*)








