IKA UPI Kritik Rencana Pembelajaran Online Imbas Krisis Energi Global

IKA UPI

“Bagi siswa, pembelajaran _online_ akan menciptakan _digital fatigue_—situasi psikologis, kelelahan mental dan fisik akut akibat penggunaan perangkat teknologi digital dalam waktu sangat lama. Kondisi ini mengantarkan pada cognitive overload yang kontraproduktif terhadap upaya peningkatan kualitas hasil belajar,” tegas Amich.

Kedua, ketimpangan akses. Indonesia masih menghadapi masalah kesenjangan teknologi _(technology divide)_ dan ketimpangan digital _(digital gap)_ yang nyata di banyak wilayah. Bila kebijakan ini diterapkan, maka akan semakin memperlebar disparitas layanan pendidikan antara wilayah perkotaan, perdesaan, pelosok, dan daerah 3T, yang belum tersedia infrastruktur teknologi digital yang memadai. Selain itu, pengalaman pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 menunjukkan beban biaya juga tergolong mahal, yang tidak terjangkau oleh siswa-siswa dari keluarga tidak mampu.

Baca Juga  Operasi Bersama Antara BNN, POLRI, TNI, Dan Pemda Dalam Pemberantasan Serta Pemulihan Kampung Narkoba

Ketiga, meluruskan logika efisiensi. Logika penghematan subsidi energi (BBM) tidak tepat bila harus juga menimpa dunia pendidikan. Penutupan sekolah yang kemudian digantikan dengan pembelajaran daring pada masa pandemi Covid-19, berkontribusi langsung pada _learning loss_ yang sangat signifikan (hasil PISA 2022 menurun tajam).

“Berbagai studi seperti Hanushek & Woessmann pada 2020 lalu menunjukkan bahwa setiap bulan terjadi kehilangan pembelajaran, berisiko menurunkan pendapatan individu di masa depan sebesar 3-5 persen. Dalam jangka panjang, _learning loss_ justru membawa dampak kerugian produktivitas nasional yang jauh lebih besar daripada nilai subsidi BBM yang dihemat,”.

*Pedagogi Hijau*

Pos terkait