“Perkembangan anak-anak usia 12–15 tahun dengan berbagai permasalahannya memang tidak mudah, apalagi sekarang sudah terpapar gadget dan media sosial. Kalau kita tidak tahu ilmunya dan tidak memahami permasalahannya, itu akan menjadi gap dalam komunikasi,” ujar Yantie Rachim.
Ia menuturkan bahwa anak-anak di usia tersebut cenderung mendapatkan banyak informasi secara instan melalui perangkat digital, sehingga membutuhkan pendampingan yang tepat agar tidak salah dalam menyerap informasi.
“Sekarang anak-anak bisa mendapatkan banyak hal dari HP mereka. Kalau kita tidak mendampingi, mereka bisa menyerap segala hal dari situ. Maka perlu kita arahkan bahwa apa yang mereka dapatkan itu harus melalui proses, bukan hanya melihat hasil,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dalam pergaulan sosial, remaja cenderung lebih dekat dengan teman sebaya dan mulai tertarik dengan lawan jenis, sehingga membutuhkan perhatian dan pendampingan yang lebih intens.
“Di usia ini mereka sedang mencari jati diri, emosinya labil, ingin dianggap dewasa, lebih senang bermain dengan temannya, dan lebih sensitif terhadap penilaian orang lain. Cara berpikir mereka juga sudah mulai kritis, jadi kalau kita tidak memahami itu, bisa terjadi kesenjangan komunikasi,” ungkapnya.








