Ia tiba sekitar pukul 19.30 WIB dan harus menunggu saya selama kurang lebih tiga jam karena saya masih menyelesaikan pekerjaan di kantor. Sekitar pukul 22.30 WIB, kami akhirnya berangkat dari Sukabumi menuju Bandung. Namun, perjalanan tersebut tidak seperti perjalanan wartawan pada umumnya. Kami tidak memiliki uang untuk menginap di hotel atau losmen. Akhirnya, kami memilih bermalam di sebuah masjid di Kota Bandung. Karena kelelahan, saya tertidur pulas di Masjid Al Mukaromah dengan alas karpet yang sudah keras.
Sementara itu, H. Bagio tetap terjaga. Ketika azan Subuh berkumandang, almarhum membangunkan saya.
“Ayo bangun, sudah azan. Kamu tidurnya ngorok, malu sama marbot masjid yang juga menegur dan membangunkan tadi,” katanya kala itu. Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, bahkan lucu. Namun, bagi saya, itulah salah satu kenangan paling berharga tentang almarhum. Ia bukan hanya mengajak saya menjalankan tugas organisasi dan profesi. Ia juga selalu mengingatkan saya untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.
H. Bagio selalu mengingatkan saya untuk salat tepat waktu. Tidak hanya ketika perjalanan ke Bandung, tetapi juga ketika kami bersama-sama berada di Sekretariat PWI Kabupaten Bogor. Jika sedang bepergian bersama dan waktu salat tiba, almarhum selalu mengajak mencari masjid. Kebiasaan kecil tersebut kini justru menjadi kenangan besar.
Setiap kali waktu salat tiba, saya selalu teringat kepada almarhum. Teringat bagaimana ia mengingatkan. Teringat bagaimana ia mencari masjid. Teringat bagaimana ia begitu konsisten mengingatkan orang-orang di sekitarnya untuk tidak melupakan kewajiban seorang muslim.
H. Bagio telah pergi. Namun, nasihat tentang profesi, persahabatan, ukhuwah, pengabdian, dan terutama tentang salat serta kehidupan akhirat, akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. Bagi saya, H. Bagio bukan hanya mantan Ketua PWI Kabupaten Bogor. Ia adalah sahabat, , sekaligus sosok yang mengajarkan bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal kemampuan menulis dan mencari berita. Menjadi wartawan juga harus memiliki adab, ilmu, integritas, tanggung jawab dan keberanian untuk menegakkan kebenaran.








