“Keluarga Berisiko Stunting (KRS), yang kebetulan punya anak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) atau baduta. Tadi punya anak baduta, ini juga punya anak baduta. Ternyata rumahnya termasuk kategori KRS, Keluarga Berisiko Stunting. Saya sudah lihat sampai ke dalam, tadi saya sholat di sana. Antara kebutuhan air, antara MCK, kemudian dapur, itu menyatu,” ungkap Menteri Wihaji.
Jamban yang tidak layak menyebabkan stunting karena memicu pencemaran lingkungan yang berujung pada infeksi saluran pencernaan atau diare berulang pada anak. Infeksi usus berulang membuat dinding usus anak rusak dan meradang, sehingga kemampuan usus untuk menyerap nutrisi dari makanan menjadi sangat menurun. Meskipun anak makan cukup, gizi tidak terserap dengan baik oleh tubuh. Akibatnya, pertumbuhan fisik dan otak anak terganggu dalam jangka panjang (stunting).
Selain itu Menteri Wihaji juga mendatangi rumah KRS lainnya, Nur Alfi, ibu hamil dan suaminya Agys Hermawan yang sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh harian lepas. Mereka juga tinggal bersama kedua orangtuanya dengan kondisi rumah yang memprihatinkan.








