Distribusi diarahkan terutama kepada kelompok yang dinilai membutuhkan perlindungan lebih, seperti lansia, pekerja lapangan serta masyarakat yang memiliki kerentanan atau riwayat penyakit saluran pernapasan.
Sementara itu, Dinkes telah memperkuat Surveilans di 25 Puskesmas untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat. Pemantauan dilakukan terhadap enam indikator yang berkaitan dengan dampak paparan abu vulkanik, yakni ISPA, pneumonia, PPOK, asma, konjungtivitis, dan dermatitis.
Berdasarkan hasil surveilans, total kasus keenam indikator tersebut tidak menunjukkan peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, Dinkes mencatat adanya kenaikan pada dua indikator yang relevan dengan pajanan abu vulkanik, yakni PPOK dari 24 menjadi 31 kasus dan konjungtivitis atau iritasi mata dari 30 menjadi 36 kasus.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kota Bogor telah meningkatkan intensitas surveilans di wilayah terkait, memastikan ketersediaan obat dan APD di seluruh puskesmas, serta terus meningkatkan edukasi dan komunikasi risiko kepada masyarakat.
Pihaknya telah melakukan edukasi secara masif terkait protokol kesehatan dan perkembangan terbaru di berbagai saluran komunikasi publik yang ada.
Ana menegaskan bahwa penanganan sebaran abu vulkanik akan terus disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara dan kondisi di lapangan. Masyarakat juga diimbau untuk mengikuti informasi resmi pemerintah dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. (*)








