Dalam kesempatan itu, Siska menitipkan empat tugas kepada tenaga lini lapangan. Keempatnya adalah menyampaikan informasi kontrasepsi secara benar, obyektif, dan mudah dipahami; meluruskan mitos keliru tentang kontrasepsi; meningkatkan kualitas komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta pendampingan keluarga; serta menindaklanjuti dan merujuk keluarga yang membutuhkan layanan kontrasepsi.
Mitos yang perlu diluruskan, antara lain, anggapan bahwa vasektomi menurunkan kejantanan pria serta ketakutan terhadap pemasangan implan dan alat kontrasepsi dalam rahim. ”Saya berharap ini tidak berhenti di tingkat bapak dan ibu saja atau berhenti dalam bentuk pengetahuan saja, tetapi dapat dilanjutkan dalam bentuk penggerakan dan pendampingan di lapangan,” ujar Siska.
Ia juga meminta perhatian khusus bagi daerah dengan angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi, seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung. Siska menekankan, jarak kelahiran yang terlalu rapat dan jumlah anak yang terlalu banyak juga berisiko melahirkan anak stunting. Karena itu, tenaga lini lapangan diminta berkolaborasi dengan penyuluh KB, tim pendamping keluarga, dan kader PKK. ”Jangan bergerak sendiri, supaya tangan dan kaki kita semakin banyak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga DP3AKB Jabar Iin Indasari melaporkan, kegiatan ini mengundang 572 tenaga Motekar dan Teladan KB se-Jawa Barat. Pelaksanaannya berlandaskan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga serta Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 56 Tahun 2026 tentang penguatan pelayanan KB pascapersalinan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta mempercepat penurunan stunting.
“Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan Teladan KB dan Motekar dalam memberikan KIE guna membantu keluarga menentukan pilihan kontrasepsi yang tepat, aman, sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, forum ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik antarpemangku kepentingan dalam mewujudkan keluarga berkualitas di Jawa Barat,” terang Iin.








