Dalam penataan ini, PT KAI memiliki tiga konsep, yaitu konektivitas antara Stasiun Bogor dan Stasiun Paledang dengan kawasan sekitar.
“Kemudian juga akan connectivity dengan moda angkutan yang lainnya. Jadi intermodanya kita lihat juga, bagaimana kita nanti menjadikan ini pusat intermoda. Di situ ada Trans Pakuan, kemudian ada angkutan daring juga. Dan angkutan-angkutan yang lain, bahkan diskusi dengan Pak Wali juga bagaimana kita menghadirkan apakah konsepnya LRT perkotaan atau trem perkotaan. Nanti terintegrasinya semuanya di sini,” ungkapnya.
Selanjutnya, konsep utama berkaitan dengan spasialitas yang tidak hanya menciptakan ruang-ruang terbuka, tapi juga ruang usaha atau ruang ekonomi, atau yang dikenal dengan Transit Oriented Development (TOD).
“Jadi proses revitalisasi atau penguatan dari Stasiun Bogor ini sebenarnya sudah kita mulai. Teman-teman lihat sendiri selama 3 bulan kemarin sudah selesai, peron 6, 7, 8 kita tutup. Dan ini sudah kita buka lagi, sehingga sekarang itu peron 6, 7, 8 peronnya sudah panjang dan sudah ada kanopinya. Ini bisa menambah kapasitas angkut 30% harian daripada sebelumnya. Kita lihat juga sekarang ada peron 4 dan 5 kita tutup untuk penambahan kanopi, karena nanti untuk menghindari supaya para pelanggan atau pengguna tidak akan kehujanan,” ujarnya.
Kemudian, pada tahun depan pembangunan akan meliputi tata sisi sebelah selatan yang akan berfungsi menjadi pick-up and drop-off zone bagi angkutan Kota Bogor.








