Menurut Eduard, masyarakat di era media sosial cenderung mendapatkan informasi dari platform yang sesuai dengan kebiasaan dan preferensinya. Akibatnya, pilihan informasi tidak selalu didasarkan pada pertimbangan mengenai benar atau tidaknya informasi tersebut.
Kondisi ini membuat kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan membaca menjadi semakin penting.
“Masyarakat memilih berita bukan karena kebenarannya, tetapi karena sesuai dengan apa yang mereka sukai,” kata Eduard.
Ia mengingatkan bahwa derasnya arus informasi digital dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam berkonsentrasi dan mengolah informasi secara kritis.
Karena itu, literasi media menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan ekosistem informasi.
Masyarakat tidak cukup hanya memiliki akses terhadap informasi. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa sumber, memahami konteks, membandingkan informasi, serta membedakan fakta dengan opini.
Pada titik inilah, pers profesional tetap memiliki peran penting. Jurnalisme yang bekerja berdasarkan verifikasi, keberimbangan, dan kepentingan publik dapat menjadi salah satu rujukan masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.
Menjaga Kedaulatan Informasi
Dialog KIBAR tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak semata-mata merupakan persoalan perpindahan platform dari media konvensional ke media digital.
Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan masyarakat tetap memperoleh informasi yang berkualitas di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat.
Pers nasional dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan prinsip-prinsip jurnalistik. Sementara negara diharapkan mampu menciptakan kebijakan yang menjaga keberlanjutan industri media tanpa mengganggu independensi pers.
Dengan keseimbangan tersebut, transformasi digital diharapkan tidak hanya menghasilkan masyarakat yang semakin cepat menerima informasi, tetapi juga masyarakat yang semakin kritis, cerdas, dan mampu menentukan informasi yang dapat dipercaya.
Bagi PWI, penguatan ekosistem pers pada akhirnya bukan semata-mata kepentingan industri media. Keberadaan pers yang sehat berkaitan langsung dengan hak publik untuk memperoleh informasi yang berkualitas serta kehidupan demokrasi yang membutuhkan ruang informasi yang sehat dan terpercaya. Saya sengaja membuat Akhmad Munir sebagai tokoh utama berita, sementara pandangan KPID Jabar dan Eduard Depari berfungsi sebagai penguat perspektif, sehingga alurnya lebih menyerupai feature/news analysis media nasional, bukan sekadar laporan acara. (*)








