“Dari film itu muncul (2016) sampai sekarang, orang-orang pada ingin datang ke tempat-tempat yang menjadi latar di cerita itu, ada cafe, gereja ayam, kulinernya dan spot lainnya. Kita pemerintah daerah pengen banget buat film kayak gitu,” ungkap Bima Arya.
Selain AADC, Bima Arya juga mengungkapkan suka menonton film komedi dan kisah perjalan seseorang. “Kalau komedi semua film Raditya Dika saya tonton. Terus saya juga suka yang mellow dan romantis. Habibie Ainun juga saya tonton. Film ini keren. Selain karena cerita cinta, juga cerita tentang heroisme dari Presiden Habibie. Sehingga anak-anak muda yang malas baca buku, dia nonton film itu, dia kenal dengan Habibie, dia jatuh cinta,” jelas Bima.
“Anak-anak muda Amerika kan tidak harus ikut seperti di kita ada penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) untuk jadi nasionalis. Mereka cukup nonton film tentang JFK (John F Kennedy), mereka nonton film tentang Lincoln, mereka langsung suka dan bangga dengan Amerika,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Sandiaga mengatakan bahwa subsektor film di Indonesia pada 2019 mencatat USD 500 juta kontribusinya kepada ekonomi tanah air dan membuka banyak lapangan kerja.








