Pagelaran Budaya Nusantara Program PMM Angkatan 2 Inbound Bawa Semangat Kebhinekaan Dari UNIDA untuk Nusantara

PMM

“Akhirnya, pada hari ini sampai kita pada penghujung kegiatan program PMM angkatan 2. Baru kemarin sepertinya, tentu ada rasa haru dengan penutupan ini karena kita akan berpisah. Tapi saya pikir pisah hanya sebuah kata, jiwa raga kita melalui kenangannya insyaAllah akan tetap bersama. Pesan kesan yang disampaikan Adik-adik pada video tadi dapat dikatakan bahwa program ini sangat baik, bagi pengelola perguruan tinggi maupun mahasiswa dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya.

Terakhir, Prof. Dr. H. Suhaidi, S.H., M.H berharap apa yang sudah dilewati para mahasiswa selama di UNIDA dapat menjadi pembelajaran berharga untuk bersama-sama menggapai cita memajukan bangsa.

“Harapan kami semoga Adik-adik mahasiswa nyaman dan senang belajar di sini. Apa yang didapatkan, pembelajaran yang mungkin agak berbeda di tempat asal. Suasana yang berbeda, budaya yang berbeda, itu merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk Adik-adik yang akan pulang kembali ke daerahnya masing-masing,” sambungnya.

Baca Juga  Sekda Tinjau Terminal Bubulak, Perbaikan Sementara Dengan Bongkahan Aspal

Dalam acara ini turut dimeriahkan dengan Tari Sekapur Sirih yang ditampilkan di awal acara. Penampilan Tari Rampak Gendang, persembahan lagu dari Nusa Tenggara Barat, Tari Manuk Dadali, Seni Pantun Riau, Lagu Merdua Holong dari Sumatera Utara, hingga Sendratari, drama yang dirangkai dengan menggabungkan tari adat dari berbagai daerah sesuai asal mahasiswa PMM. Kemudian juga penampilan angklung dan ditutup dengan pemutaran video dokumenter.

Wahyu Riadin, salah satu mahasiswa PMM dari Universitas Muhammadiyah Sorong, Papua, menyampaikan rasa syukurnya karena telah menjadi bagian program PMM yang ditempatkan di UNIDA. Ia menyebutkan, perbedaan kultur budaya menjadi salah satu hal yang paling berkesan, dipertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai daerah menjadi hal baru yang sulit terlupakan.

Baca Juga  Resmikan Menara Masjid Baitussalam, Karnain Asyhar : Kini Tak Ada Penghalang Penuhi Panggilan Adzan

“Saya pribadi berasal dari timur, saya terbiasa dengan bahasa yang keras dan cepat, sedangkan saya sampai di UNIDA, di Bogor ini, bahasanya halus, sopan, kok beda, seperti punteun, alhamdulillah sae,” ujarnya yang disambut tawa.

“Tentu saja hadirnya kami di sini, UNIDA menyambut kami dengan baik. Memperlakukan kami dengan tidak membeda-bedakan dari mana kami berasal, kami aman dan nyaman di sini. Saya harap kita dapat menjadi keluarga, walaupun hanya singkat waktu kita bersama. Saya mohon untuk tetap kita kenal, bilamana kita ada kesempatan di waktu lain untuk bertemu, kita bisa ceritakan kembali masa-masa PMM ini. Semoga kita bisa buat buku bersama, dengan judul Kota Hujan Penuh dengan Kenangan,” pungkasnya.

Pos terkait