“Jadi street art juga berperan penting sebagai pengingat orang-orang yang melewati itu, oh masih ada itu, masih ada yang harus diperjuangkan 135 orang kehilangan nyawanya, beberapa kali saya munculkan,” tutur dia, lebih lanjut.
Dalam proses mengumpulkan data, Farid mengaku sejak awal berusaha menjadi teman curhatan hati (curhat) narasumber, terutama dari pihak korban.
“Saya biarkan mereka bercerita, saya tidak sebagai wartawan yang akhirnya menggali informasi dari narsum ya saya sekadar ngobrol, rekaman saya matikan, kemudian kita masuk ke pokok intinya,” jelas Farid.
“Kalau saya datang mencari informasi dan mereka keadaannya masih terguncang ya susah. Kita nggak sampai hati,” ucapnya pula.
Pengamat media, Asro Kamal selaku juri Kategori Jurnalistik Cetak secara terbuka memuji karya tulisan Farid.
“Sebelum membaca tulisan ini saja, lihat penampilan saja Anda ini Adinegoro, luar biasa,” sanjung Asro dalam seminar yang sama.








