Selain itu, dihasilkannya 8 galur harapan padi Zn tinggi dan asam fitat rendah serta merupakan turunan beras aromatik membuat hasil riset ini cukup seksi untuk dilanjutkan penelitiannya sampai akhirnya bisa lulus pelepasan varietas unggul baru.
Menurut Ratna, menjadi mahasiswa bukan hanya sekedar bicara IPK dan siapa yang menjadi terbaik, tapi siapa yang bisa banyak berbuat baik sebelum dan setelah amanah gelar disematkan.
“Bagi saya, menjadi mahasiswa adalah sebuah ‘privilege’ yakni keistimewaan yang tidak semua pemuda diberkahi kesempatan untuk merasakan bangku kuliah S1, S2, bahkan sampai pencapaian puncak studi yakni S3,” tutur Ratna.
“Mahasiswa adalah bagian dari 35% pemuda Indonesia yang diberi keberkahan dalam kesempatan menimba ilmu, menjadi salah satu bagian yang telah menjalani peluang, kenikmatan, sekaligus tanggung jawab atas ilmu yang diperoleh,” imbuhnya.
Bagi Ratna, kuliah itu seperti membeli sebuah situasi yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk belajar, membentuk jejaring, skill dan attitude yang baik, bertemu dengan berbagai teman yang berasal dari berbagai civitas scientist, berbagai suku dan budaya bahkan beda negara.
Pasca studi S3, Ratna akan kembali kerja untuk melanjutkan pengujian dan standarisasi terhadap galur-galur harapan yang telah diperoleh sampai dapat dilepas nanti, melakukan kolaborasi kegiatan lintas institusi, sharing ilmu, dan meneruskan hobi menulis dalam bentuk publikasi apapun.
“Amanah dan challenge yang dipercayakan telah saya tunaikan, dan tentunya hasil riset ini semoga dapat dimanfaatkan dengan baik oleh semua pihak yang pada akhirnya harus dapat mendarat dengan baik di tangan petani Indonesia untuk pencapaian swasembada pangan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)








