Kurun tiga tahun terakhir, investasi di Kota Bogor mengalami peningkatan. Tercatat, realisasi tahun 2020 cukup tinggi, namun ‘terpukul’ ketika pandemi Covid-19 dan saat ini sudah mulai recovery.
“Artinya belum menyamai sebelum pandemi, tetapi relatif lebih cepat recovery-nya,” jelasnya.
Ada hal yang menarik kata dia, di lapangan karena banyaknya cafe, warung dan restoran secara signifikan yang peningkatannya berkali-kali lipat. Namun tidak diimbangi kelengkapan dokumen dan izinnya, sehingga diperlukan langkah-langkah yang lebih persuasif untuk memastikan semuanya memiliki izin sesuai aturan. Diantaranya langkah-langkah jemput bola untuk lebih memaksimalkan pelayanan perizinan kepada masyarakat, diantaranya program SMART Merapat berupa mobil keliling di kecamatan dan kelurahan dan aplikasi SAPA ANDA sebagai booking online untuk antrian.
Catatan penting tidak lupa disampaikan Bima Arya sebagai evaluasi. Diantaranya ketersediaan SDM untuk tim profesional ahli yang belum memadai, di Kota Bogor baru ada satu tim sehingga menurutnya tim tersebut perlu diperbanyak untuk memperbanyak perizinan.
Selanjutnya adalah jika RDTR (Rencana Desain Tata Ruang) sudah lengkap, maka ada satu fase terpangkas yaitu PKPR (Persetujuan Kegiatan Pemanfaatan Ruang).
“Di Kota Bogor belum, karena ada konsekuensi anggaran, perencanaan dan sebagainya, sehingga keduanya diharapkan menjadi atensi bersama, pusat dan daerah agar bisa akselerasi,” jelasnya.
“Pada intinya usaha kami ikhtiar, namun ada hal yang perlu diakselerasi pemerintah pusat dan ada hal yang perlu dievaluasi di pemerintah daerah, termasuk memastikan para staf serius dan tidak main-main, memiliki komitmen agar tidak berkomunikasi dengan vendor,” kata Bima Arya.








