“Bunuh diri menjadi penyebab terbesar ke-2 kematian yang terjadi pada rentan usia 15-29 tahun. Lebih dari 800.000 orang setiap tahunnya mati karena bunuh diri, sekitar 20 persen nya di sebabkan oleh anak-anak dan remaja di dunia yang mengalami gangguan dan permasalahan mental,” ungkap Bram.
Hal yang lebih mencoreng citra bangsa adalah tingkat kekerasan di sekolah maka Indonesia 84% ( ranking pertama),
Vietnam dan Nepal 79%, Kamboja 73% dan Pakistan 43%. Sebanyak 27,9% siswa SMA di Indonesia melakukan kekerasan dan 25,4 % siswa SMA mengambil sikap diam.
Menurut Bram, remaja yang sudah duduk di bangku SMP, SMA dan SMK umumnya menghabiskan waktu sekitar 7 jam sehari di sekolahnya. Hal ini berarti bahwa, hampir sepertiga dari waktunya setiap hari dilewatkan remaja di sekolah. Tidak mengherankan bila sekolah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan jiwa remaja.
Itulah sebabnya keberadaan guru BK disetiap sekolah sangat dibutuhkan dan jumlahnya antara 2-3 orang guru BK. Selama ini guru BK minimal hanya bisa mengunjungi tiap kelas satu minggu sekali. “Solusinya sekolah negeri maupun swasta wajib memiliki guru BK lebih dari satu orang,” tegasnya.
Hal yang mengejutkan adalah para peserta yang 90% adalah guru BK ternyata bekerja dalam tekanan bahkan hingga 13-14 jam per hari, meskipun pertemuan siswa dan sekolah hanyalah 7 jam.
Darurat kesehatan mental
“ Jika masalah darurat kesehatan mental ini mau diatasi secara nasional, maka guru BK harus melakukan tugasnya dengan bahagia dan memiliki waktu untuk diri sendiri maupun keluarganya. Sekolah juga harus memiliki proses belajar dan mengajar yang sehat dan sejahtera sehingga siswa akan merasa lebih bahagia dan sejahtera dalam mengikuti pelajaran di kelas, dapat belajar secara efektif dan memberi konstribusi positif pada sekolah dan lebih luas lagi pada komunitas,”
Solusi lainnya, semua stakesholders bangsa ini meningkatkan kompetensi guru BK sebagai orang yang ahli dalam menangani kesehatan mental dengan ilmu coaching dan hypnotherapy misalnya karena persoalan anak bangsa saat ini tidak bisa lewat nasehat dan ceramah lagi tapi tuntutan jamannya yang sudah berubah.
“ Guru BK harus bisa jadi teman curhat, jadi guru pembimbing, mentor selain banyak pula yang menjadi pengganti orangtua. ESQ Corp berkomitmen memberikan pelatihan, pendampingan pada guru BK sehingga cita-cita memiliki SDM emas tahun 2045 tercapai,” kata Bram G. Wibisono, Trainer Senior ESQ yang telah berbagi ilmu di lebih dari 650 kelas Training Nasional di Bank Indonesia
Mengutip Konfusius, dia mengatakan untuk menertibkan dunia, pertama-tama kita harus menertibkan bangsa. Untuk menertibkan bangsa, pertama-tama kita harus menertibkan keluarga. Untuk menertibkan keluarga, pertama-tama kita harus membina kehidupan pribadi kita, mengatur hati kita dengan benar terlebih dahulu. (*)








