Siska menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mengampanyekan pencegahan perkawinan anak melalui program Stopan Jabar. Hal ini dilakukan mengingat perkawinan pada usia anak memiliki dampak buruk terhadap kehidupan masyarakat. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk mewujudkan keluarga berkualitas di Jawa Barat.
“Perkawina anak memiliki mudharat-nya lebih banyak dari manfaatnya,” tandas Siska.
Dalam pelaksanaannya, program Stopan Jabar dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan para pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan lain-lain. Kolaborasi menjadi kata kunci untuk memperluas jangkauan kepada masyarakat.
“Kolaboasi sangat diperlukan untuk memperluas jangkauan. Salah satunya dengan penyuluh agama dan penghulu yang perannya memiliki pengaruh besar di masyarakat. Kami berharap para penyuluh dan penghulu bisa menyampaikan substansi Stopan Jabar ini melalui berbagai kagiatan, seperti saat memberikan penyuluhan, konsultasi, maupun pencatatan perkawinan,” jelas Siska.
Bagi Siska, penyuluh agama dan penghulu memiliki peran strategis untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Mereka adalah ujung tombak untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat.








