“Secara keseluruhan, perbedaan utama antara kedua konsep ini, Muslim Friendly Tourism dan Halal Tourism adalah tingkat kepatuhan terhadap pedoman halal. Muslim Friendly Tourism memberikan fleksibilitas lebih besar dan fokus pada kenyamanan wisatawan Muslim secara umum,” tambah Hilda.
Apalagi pertumbuhan wisata halal dunia rata-rata 27 persen per tahun, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan sektor wisata dunia yang hanya tumbuh 6,4 persen. Laporan Mastercard CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) ini seharusnya di Indonesia sudah ditanggapi dan dikembangkan dengan mempromosikan paket-paket wisata halal atau di dunia dikenal dengan nama Halal Tourism.
Faktanya kini di sektor Halal Tourism sebagai bagian dari Halal Industry menjadi tumpuan banyak negara Muslim maupun Non Muslim untuk menguatkan perekonomian negaranya. Muslim di dunia yang mencapai 2,2 miliar jiwa membuat negara-negara Non-Muslim berlomba memenuhi kebutuhan Muslim dunia dengan menciptakan paket-paket Muslim Friendly Tourism.
Khusus mengenai Muslim Travel, perkembangan pasar hingga 2027 diperkirakan mencapai US$ 179 juta tahun 2025, dimana data 2022 sudah mencapai US$ 133 dari data Global State of The Islamic Economic ( SGIE) Report 2023/2024. Setiap tahun Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC) berkontribusi pada laporan tahunan yang dikeluarkan DinarStandar ini.
Indonesia sebagai negara anggota Organisasi Kerjasama Islam ( OKI) beranggotakan 57 negara pernah menjadi tuan rumah Konferensi Wisata Syariah Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berlangsung di Jakarta 2-3 Juni 2014 yang menjadi titik awal lahirnya standarisasi pariwisata halal ( halal tourism) yang kini diterapkan oleh OKI.
Jika negara saat ini bingung menetapkan penggunaan istilah Muslim Friendly Tourism atau Halal Tourism maka penelitian Nadya Mira dari Universitas Darrusalam Gontor yang melakukan penelitian dengan metode Bibliometrik, tahun 2024 maka kata kunci yang paling sering muncul di seluruh dunia adalah Halal Tourism








