Wihaji tidak memungkiri angka prevalensi KB pria masih sangat rendah. Data BKKBN menunjukkan prevalensi pengguna kontrasepsi metode operasi pria (MOP) hanya 0,13 persen. Angka ini paling rendah dibandingkan alat kontrasepsi lainnya.
Prevalensi penggunaan kontrasepsi tertinggi lainnya tercatat pada alat suntik dengan 35,6 persen, pil 7,5 persen, dan implan 6,9 persen. Hampir seluruh metode kontrasepsi menyasar perempuan, sedangkan bagi pria hanya ada vasektomi dan penggunaan kondom sebesar 3,6 persen.
“Padahal, (vasektomi) ini sudah ada sejak dulu dan orang-orang yang melakukannya baik-baik saja,” ungkap Wihaji. Meski demikian, ia mengatakan, edukasi terkait vasektomi di masyarakat masih sangat dibutuhkan. Apalagi, selama ini, perempuan kerap jadi obyek penggunaan kontrasepsi.
“Harus juga ada kesetaraan bahwa laki-laki dikasih ruang untuk menggunakan metode kontrasepsi,” katanya.








