“Kemudian yang kedua adalah ngapak mega digunakan sebagai metafora berpikir besar, punya visi tinggi. Tidak hanya terpaku pada hal kecil, tetapi mampu melihat jauh ke depan serta harus mempunyai target ke depan,” Sekda menambahkan.
Adapun napak sancang berarti bisa menyelesaikan masalah dalam situasi sulit dengan anggaran terbatas. Dalam hal ini, fokus pada exit strategy.
Sejalan dengan itu, Herman mngungkapkan bahwa pembangunan SDM dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil dan paling fundamental dalam masyarakat. Keluarga yang kuat, harmonis, dan berdaya menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
“Pegawai di lingkup DP3AKB perlu memberikan kontribusi bagi masyarakat, khususnya pada pencegahan kekerasan serta penanganan kekerasan secara komprehensif. Forum OPD bukan hanya formalitas. Ini hanya titik masuk melihat DP3AKB memiliki masalah yang kompleks dan juga kita harus lebih mitigatif. Sebagai catatan, provinsi adalah agregat. Kuncinya adalah kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan hingga desa,” ucap Herman.








