Dalam sambutannya, Wihaji merinci enam kelompok yang menjadi sasaran pendampingan TPK sepanjang siklus kehidupan keluarga, yakni calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, anak di bawah dua tahun (baduta), balita, remaja, hingga lanjut usia (lansia).
Untuk calon pengantin, ia menekankan pentingnya pendampingan agar usia pernikahan ideal terpenuhi, yakni minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki, karena pernikahan dini disebutnya sebagai salah satu penyebab stunting.
“Salah satu sebab stunting adalah pernikahan,” ujarnya.
Adapun pendampingan terhadap baduta disebutnya sebagai periode paling menentukan, karena masuk dalam rentang 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Menurut Wihaji, peluang pemulihan anak yang telanjur mengalami stunting setelah usia dua tahun jauh lebih kecil.
“Kalau sudah dua tahun tidak stunting, ke sananya tidak akan stunting. Tetapi kalau di usia dua tahun kena stunting, yang bisa disembuhkan cuma 20 persen,” katanya.
Soroti Kecanduan Gawai pada Remaja
Untuk kelompok remaja, Wihaji menyoroti tingginya intensitas penggunaan telepon seluler di kalangan anak, yang menurutnya rata-rata mencapai delapan jam per hari, berbanding jauh dengan waktu komunikasi orangtua dan anak yang disebutnya hanya berkisar sepuluh menit sehari. Kondisi itu, kata dia, membuat anak lebih nyaman bercerita kepada gawai ketimbang keluarganya sendiri.
“Anak-anak kita setiap hari pegang telepon genggam minimal delapan jam. Ibu ngobrol sama anak paling sepuluh menit,” ujarnya, sembari mengingatkan kader agar turut menjaga komunikasi dengan pasangan di rumah masing-masing.
Dorong Sekolah Lansia








