Hadapi Disrupsi Media, Ketum PWI dan KDM Ingatkan Independensi Pers

PWI

Perkembangan AI dan media sosial dapat menjadi instrumen yang membantu pekerjaan jurnalistik. Namun teknologi tidak dapat menggantikan tanggung jawab wartawan dalam menentukan kebenaran informasi, melakukan verifikasi, memberikan konteks dan mempertanggungjawabkan produk jurnalistik kepada publik.

Pandangan tersebut sejalan dengan diskursus PWI mengenai masa depan pers di era disrupsi media. PWI menilai perubahan teknologi akan mengubah cara wartawan bekerja, tetapi prinsip integritas, verifikasi, independensi dan tanggung jawab kepada publik tidak boleh ikut berubah.

Munir juga mengingatkan kepengurusan PWI Jawa Barat yang baru dilantik bahwa jabatan dalam organisasi bukan sekadar kehormatan.

Kepercayaan yang diberikan kepada pengurus harus dipertanggungjawabkan pada akhir masa bakti dengan kerja nyata untuk menjaga profesionalisme wartawan, organisasi, bangsa dan negara.

Baca Juga  Dedie Rachim Serahkan Hewan Kurban untuk Warga Mulyaharja

KDM: Pers Harus Independen dan Objektif

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan besarnya posisi PWI sebagai organisasi profesi wartawan sekaligus tanggung jawab yang melekat pada anggotanya.

Menurut KDM, pers harus tetap berdiri secara objektif dalam menyajikan informasi kepada masyarakat.

“PWI organisasi tertua di Indonesia, organisasi terbesar untuk objektif dalam menyajikan pemberitaan,” kata Dedi dalam acara tersebut.

Pesan itu menjadi penting ketika ruang informasi publik saat ini tidak hanya diisi karya jurnalistik, tetapi juga konten media sosial, buzzer, influencer serta berbagai informasi yang bergerak mengikuti algoritma platform digital.

Dalam sambutannya, KDM turut menyinggung bagaimana opini dapat digunakan dalam pertarungan politik dan bagaimana fenomena tersebut kemudian melahirkan buzzer di ruang digital.

Baca Juga  Gelar Turnamen Biliard, PWI Kota Bogor Mempersatukan Berbagai Pihak

Karena itu, pers profesional memiliki posisi berbeda. Pers tidak semestinya larut menjadi bagian dari pertarungan opini, melainkan tetap bekerja berdasarkan fakta, verifikasi, independensi dan objektivitas.

Sikap KDM mengenai objektivitas pers juga konsisten dengan pernyataannya sebelumnya. Ia pernah meminta media tetap menghasilkan berita yang menarik tanpa meninggalkan objektivitas sehingga masyarakat memperoleh informasi secara tepat.

Pers Bukan Buzzer

Di tengah derasnya arus media sosial, pertemuan pesan Munir dan KDM memberikan garis yang jelas mengenai posisi pers.

Pos terkait