Sinergi Kampung KB :
Sementara itu, Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Faharuddin menjelaskan, Dashat merupakan salah satu bentuk sinergi kampung keluarga berkualitas (Kampung KB) dalam aksi konvergensi penurunan stunting. Kampung KB hadir untuk mendaratkan dukungan lintas kementerian atau lintas sektoral pada program pembangunan masyarakat.
“Hasil evaluasi kami menunjukkan bahwa kampung KB berhasil meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat. Dari miskin dan tertinggal jadi maju dan mandiri. Banyak desa yang berkembang setelah hadirnya kampung KB. Ternyata salah satu kunci keberhasilan kampung KB terletak pada dukungan pimpinan daerah: kades, camat, bupati. Semakin kuat komitmen pimpinan, semakin tinggi tingkat keberhasilan. Nah, dengan pendekatan tersebut kami berharap percepatan penurunan stunting bisa dilakukan secara efektif di kampung KB,” papar Faharuddin.
Dia menjelaskan, Jawa Barat menjadi perhatian nasional karena memiliki paling banyak memiliki bayi stunting. Dengan prevalensi 24,5 persen, jumlah absolutnya mencapai lebih dari 1 juta. Sementara Jawa Timur dan Jawa Tengah “hanya” memiliki masing-masing 500 ribu dan 600 ribu stunting.
“Sementara target nasional 14 persen. Adapun Jawa Barat ditargetkan bisa lebih rendah dari nasional, sebesar 13,96 persen. Artinya, pada 2024 mendatang tinggal menyisakan 588 ribu. Kalau Kabupaten Bandung diharapkan bisa turun dari 31,1 persen menjadi 17,81 persen pada 2024 mendatang. Sekarang ini jumlahnya sekitar 112 ribu stunting. Jika 112 ribu bayi dijajarkan, penuh satu lapangan bola. Ini menjadi tugas besar kita,” tandas Faharuddin.(*)








