“Program yang diinisiasi oleh pak Wali Kota keren. Ternyata kacang koro bisa diolah dalam berbagai macam variasi makanan. Jadi saya berkesimpulan kacang koro ini bisa untuk mengganti kedelai, terutama untuk tempe. Kita impor 95 persen kebutuhan kedelai itu 60 persennya untuk tempe. Ini bisa kita buat tempe yang murah, gizi tetap tinggi dan terjangkau oleh daya beli masyarakat,” ujar Teten.
Selain itu, Teten jug melihat banyak olahan kue yang terbuat dari tepung kacang koro. “Jadi bisa mensubstitusi impor terigu. Bahkan, temuannya kombinasi atau blend antara tepung kacang koro dan tepung singkong itu bisa bisa 100 persen bisa menggantikan terigu,” katanya.
Teten berharap, dengan hilirisasi produk kacang koro seperti yang dilakukan di Kota Bogor, membuat permintaan kacang koro meningkat. “Petani juga tidak ragu lagi menanamnya. Kacang koro ini mudah ditanam, adaptif dengan kondisi tanah apapun sehingga tanah marjinal, tegalan, kebun yang tidak produktif bisa ditanami kacang koro. Kita butuh sekitar 2,7 juta ton per tahun,” tutur Teten.








