“Saya kira ini PR HMI sebagai upaya untuk mencetak kader. Ini era start up, komunitas, endorser. Kita bisa gunakan cara low cost, high impact,” tuturnya.
Ketiga, metode gerakan. Antara Oposisi atau kolaborasi, antara gerakan moral, intelektual atau politik. Ini perlu orkestrasi yang pas. Tidak mungkin berhenti menjadi gerakan penjaga moral, tidak kritis. Tapi tidak mungkin selamanya jadi oposisi di jalanan.
“Nah, racikan itu saya kira yang harus pas. Ini adalah era kolaborasi,” katanya.
Pada kesempatan itu ia menyampaikan apresiasi kepada HMI yang telah mengambil visi Republik Indonesia menjadi tema organisasi Menuju Indonesia Emas 2045.
“Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita berkolaborasi, berbagi peran. HMI harus mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah. Ideologi Keislaman dan Kebangsaan, ini yang tidak dimiliki organisasi lain. Ini modal yang dahsyat menuju HMI Emas dan Indonesia Emas,” sebutnya.








