Pertemuan Ilmiah IDI, Bima Arya Minta Perbanyak Riset Siapkan Generasi Emas

Dia menyebutkan, ada 1.300 dokter di Kota Bogor. Tercatat, jumlah dokter di Indonesia 25 persennya ada di Jawa Barat.

“Luar biasa, dengan kuantitas segitu harusnya kualitas kesehatannya sesuai. Hari ini saya senang ada disini untuk menyemangati, memotivasi dan Insya Allah berkolaborasi. Pemkot Bogor bersama teman-teman dokter menatap masa depan dengan berkolaborasi,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia mengungkapkan saat ini semua ada di fase yang disebut para pemimpin dunia sebagai fase The Edge of Uncertainty (era ketidakpastian), dimana semua sangat bisa berubah dalam hitungan yang cepat.

Semua diminta untuk hati-hati. Pasalnya, banyak tren yang terjadi diluar dugaan dan diluar prediksi, diantaranya pandemi wabah Covid-19, perang, penyakit cacar monyet hingga kenaikan BBM.

Baca Juga  Ops Laut Purnama Resmi Ditutup, BNN RI Sita 130 Kg Sabu Dan Selamatkan Lebih Dari 261 Jiwa

Pemerintah pusat dalam arahannya kepada para kepala daerah selalu diingatkan untuk berkolaborasi karena referensi serba terbatas. Padahal semua harus antisipasi menghadapi perubahan yang serba cepat dan semua tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan.

Terakhir Bima Arya menekankan, ke depan tentunya Kota Bogor perlu banyak riset, bukan riset untuk komersialisasi, tetapi untuk memperbaiki kebijakan publik, termasuk kebijakan kesehatan, sistem rujukan yang paling efektif, asuransi dan yang lainnya.

Ketua IDI Provinsi Jawa Barat, Eka Mulyana menuturkan, ilmu kedokteran bukan seperti matematika. Pasalnya, perubahan dan penemuannya sangat cepat sekali. Untuk itu melalui kegiatan ini para dokter dituntut untuk tidak berhenti disitu saja tetapi terus mengembangkan keilmuan dan pengetahuannya.

Baca Juga  Belum Kantongi Izin Lengkap, Komisi I DPRD Kota Bogor Meminta Mie Gacoan di Tutup Sementara

Disamping itu, IDI bersama organisasi profesi kesehatan lainnya tengah membahas dan memperjuangkan isu-isu yang sedang hangat dalam rangka RUU kesehatan maupun terkait Omnibus Law. Dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan pelayanan kesehatan, sehingga berkeadilan tidak hanya untuk masyarakat sebagai penerima layanan kesehatan tetapi juga tenaga kesehatan lainnya memberikan kontribusi yang berkeadilan.

Pos terkait