
Sementara itu dalam sambutannya Ketua Umum IKA UPI , Enggartiasto menjelaskan Beasiswa IKA UPI merupakan bentuk kepedulian alumni terhadap adik-adiknya. Jumlah bantuan yang disalurkan berasal dari donasi alumni yang dihimpun dalam rekening khusus Beasiswa IKA UPI. Besarnya bantuan yang disalurkan disesuaikan dengan jumlah donasi yang berhasl dihimpun setiap semesternya. Atas nama seluruh pengurus IKA UPI, Enggartiasto menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada para donatur yang telah berpartisipasi dalam penggalangan dana Beasiswa IKA UPI.
“Pada tahap awal ini, bantuan yang disalurkan masih jauh dari kebutuhan. Kami mendapat laporan bahwa pengajuan penangguhan pembayaran pada semester ini mencapai 2.124 mahasiswa. Dibanding angka itu, jumlah yang bisa kami bantu belum seberapa. Namun demikian, ini adalah awal dari bergulirnya kembali program Beasiswa IKA UPI yang sempat terhenti beberapa waktu ke belakang. Ke depan kami merencanakan skenario fundraising secara komprehensif dengan lebih melibatkan alumni serta berkolaborasi dengan dunia usaha,” terang Enggar, sapaan Enggartiasto Lukita.
Pada periode ini, sambung Enggar, Beasiswa IKA UPI merupakan salah satu program unggulan IKA UPI. Tujuannya untuk memberikan manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat, khususnya mahasiswa UPI dari kalangan tidak mampu. Untuk itu, dia mengajak para alumni maupun kalangan lain untuk berpartisipasi dalam program kemanusiaan ini. Kepada para alumni, Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2016-2019 ini mengajak untuk menjadi donatur tetap dengan cara melakukan donasi secara berkala dan berkelanjutan.
Enggar meyakini donasi berkelanjutan mampu menjadikan program Beasiswa IKA UPI lebih berkesinambungan dan memberikan lebih banyak manfaat kepada para penerima. Proses seleksi yang tepat dan akuntabel juga memastikan setiap bantuan bisa diterima oleh orang yang tepat. Lebih dari sekadar meringankan beban orang tua mahasiswa, Beasiswa IKA UPI diyakini mampu mendorong terwujudkan pemerataan pendidikan yang pada akhirnya melahirkan proses mobilitas vertikal, di mana orang-orang yang selama ini tidak beruntung mampu memperbaiki kualitas dan kesejahteraan kelurga.








