“Kami mendapat laporan bahwa di antara para penerima beasiswa ini terdapat mereka yang begitu keras berjuang untuk bisa menempuh pendidikan di UPI. Ada dua orang yang terpaksa tidur di masjid karena tidak mampu membayar biaya kos. Ada yang berjuang sendirian dengan cara berjualan atau mengandalkan biaya hidup dan biaya kuliah dari honor menari karena tidak mendapat dukungan keluarga. Sebagian penerima menjalani kehidupan perkuliahan dengan sangat prihatin karena keterbatasan orang tua. Semoga kepedulian para alumni ini semakin menguatkan tekad Saudara dalam menempuh pendidikan di UPI. Kita semua percaya bahwa tidak ada jalan mudah untuk meraih sukses di masa depan. Terus berjuang dan berusaha keras,” ungkap Enggar.
Tentang perjuangan meraih sukses ini, Enggar bercerita dua orang sahabat yang dianggapnya istimewa dan menginspirasi. Pertama adalah Rio Abdurachman yang kini menjadi mitra sekaligus tangan kanannya dalam mengelola unit usaha di bidang media, B Universe. Kedua adalah Viktor Laiskodat yang kini menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur. Rio mengawali karirnya dengan berjualan koran, sementara Viktor bermula dari seorang pemulung.
“Dua orang ini sangat luar biasa. Saya sendiri bukan lahir dari keluarga kaya. Berusaha keras mulai dari nol. Tapi, dua sahabat saya ini memulai dari minus. Apa yang mereka dapatkan saat ini merupakan buah dari kerja keras dan semangat pantang menyerah. Saya meminta Anda semua para penerima beasiswa untuk belajar dari pengalaman dua sahabat saya ini. Jangan pernah menyerah,” tandas Enggar.
“Catatan lainnya, kami mendapat laporan bahwa penetapan penerima beasiswa juga telah turut memperhatikan faktor keberagaman. Ini menegaskan bahwa IKA UPI berdiri di atas semua golongan, hadir untuk semua anak bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, ras, agama, atau golongan. IKA UPI merupakan pengawal kebhinekaan,” tambah Enggar. (*)








