Guru Besar IPB: Ada yang Janj Netral di Hadapan Bakal Capres, Tetapi Diingkari

Semisal, pendapatan perkapita Indonesia yang tak sebanding dengan jumlah penduduk dan kekayaan alam melimpah di Tanah Air.

“Secara ekonomi, sebanarnya enggak baik-baik amat karena kalau secara korelatif, kan, harusnya ekonomi kita terbaik keempat kalau penduduk kita terbesar keempat, resource kaya, tetapi lihat di sini, kita hanya di rangking 16 hanya USD 1,3 Triliun. Jadi, kalau USD 1,3 Triliun, dibagi 278 juta penduduk, kita ketemunya pendapatan perkapita USD 4.580. Itu Indonesia hanya berkategori sebagai negara berpendapatan menengah atas, tetapi di jajaran bawah, karena pendapatan menengah ke atas itu dari USD 4.466 sampai USD 15 ribu. Kita baru 4.580. Jadi, menengah atas di posisi bawah. Kalau kita mau klaim sebagai negara maju makmur, pendapatan per kapita itu harus USD 13.845. Jadi, dalam bahwa Aceh-nya, masih jauh panggang dari api,” kata Rokhmin.

Baca Juga  Dedie Rachim Mural Competition, Cara Merawat Kreativitas dan Jadi Kunjungan Wisata

Rokhmin kemudian menyoroti pekerjaan rumah dari sisi perkembangan teknologi yang membuat Indonesia hanya dipandang sebagai negara kelas tiga.

“Teknologi kita pun masih kelas tiga. Artinya suatu bangsa kebutuhan teknologi lebih dari 70 persen impor. Kalau negara maju atau teknologi inovator country, itu lebih dari 70 persen teknologi diproduksi negara sendiri,” katanya.

Kemudian, kata Rokhmin, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sesuai target yang seharusnya mencapai setidaknya 7 persen.

“Pertumbuhan ekonomi yang rendah, memang kita harus tumbuh at least seven persen. Mungkin yang menjadi relevan adalah penyebab kita itu masyarakat terbelah, zaman 2019 itu kadrun vs kampret, sekarang itu Paman Usman vs demokrasi. Tepuk tangan bagi kita yang mau mengalahkan Paman Usman,” kata Rokhmin.

Baca Juga  Lantik Pejabat Fungsional dan PPPK, Bima Arya : Konsisten Antara Kata dan Perbuatan Layani Warga

“Jadi sejak zaman SBY sampai 2019 kita hanya tumbuh 5 persen, menurut ekonom ini parah. Potensi Indonesia seharusnya 8 persen,” katanya.

Selain itu, kata Rokhmin, jurang kesenjangan di Indonesia begitu lebar antara si kaya dan miskin dan membuat negara menjadi terburuk ketiga.

“Ini kesenjangan Indonesia dalam kaya dan miskin terburuk ketiga di dunia. Di mana satu persen orang terkayanya menguasai 46 persen kekayaan negara. Dan ini yang brutal bahwa kekayaan empat orang itu sama dengan 46 persen penduduk, kemudian 0,2 persen penduduk Indonesia yang terkaya itu menguasai 66 persen dari total luas lahan di Indonesia,” kata dia. (*)

Pos terkait