Pada Interactive Talkshow FIM-PII, Prof. Rokhmin Dahuri Prihatin Nasib Nelayan Indonesia

FIM

Prof. Rokhmin memberikan contoh, dari 625.633 unit kapal ikan, setidaknya hanya 3.811 unit yang tergolong modern. Indikator modern sendiri ditandai dengan kapasitasnya yang berada di atas 30 gross ton (GT). “Jumlah tersebut sekitar 0,6 persen. Sangat kecil,” ucapnya.

Selain itu, ukuran unit usaha (bisnis) perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan hasil perikanan, dan perdagangan hasil perikanan sebagian besar tidak memenuhi skala ekonomi (economy of scale). “Sehingga, keuntungan bersih (pendapatan) lebih kecil dari 300 dolar AS (Rp 4,5 juta)/orang/bulan, alias miskin,” tandasnya.

“Faktor lainnya, sebagian besar pembudidaya ikan belum menerapkan Best Aquaculture Practices (BAP = Cara Budidaya Ikan Terbaik), sehingga sering terjadi serangan wabah penyakit yang menyebabkan gagal panen,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.

Baca Juga  Ketua TP PKK Kota Bogor Ajak Pokja Kelurahan Perkuat Peran Posyandu

Kemudian, sambungnya, pasokan pakan ikan berkualitas yang selama ini mengandalkan sumber proteinnya dari fishmeal (tepung ikan) semakin terbatas, sehingga mengakibatkan harganya terus naik. Padahal, sekitar 60 persen biaya produksi untuk pakan ikan.
“Pasokan induk (broodstocks) dan benih berkualitas unggul (SPF, SPR, dan fast growing) masih terbatas. Padahal, benih menentukan 50% keberhasilan usaha budidaya,” ujar Prof. Rokhmin mengutip data FAO (2018).

Prof. Rokhmin Dahuri mengaku merasakan prihatin dengan nasib nelayan karena kalau membeli sarana produksi seperti jaring, BBM, beras dst selalu mendapatkan harga yang lebih mahal karena nelayan tidak bisa membeli langsung ke pabrik tetapi harus melalui sekian banyak perantara. Sebaliknya ketika nelayan menjual ikan hasil tangkap mereka pun tidak bisa langsung menjual ke pasar akhir. “Lagi-lagi, harus melalui tengkulak atau pedagang perentara,” ungkapnya.

Baca Juga  Dedie Rachim Ajak Anggota Pramuka Jadi Entrepreneur

Untuk itu, Prof Rokhmin Dahuri berharap kehidupan nelayan Indonesia bisa lebih sejahtera. ”Saya berharap pendapatan minimal para nelayan di Indonesia rata-rata per bulannya Rp 7 juta,” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia itu.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan, Indonesia memiliki modal besar dan lengkap untuk menjadi negara maju, sejahtera, dan berdaulat. Namun dengan modal yang begitu besar, Indonesia masih berada dalam middle class. “Untuk menuju Indonesia yang maju dibutuhkan transformasi struktural ekonomi,” katanya.

Pos terkait