Ia menjelaskan bahwa Tamasya An Nisa merupakan bagian dari program nasional Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), yang telah tersebar di lebih dari 3.000 titik di seluruh Indonesia. Namun, yang di Garut ini memiliki keunikan tersendiri karena dikelola secara swadaya dengan sistem infak harian.
“Guru-gurunya luar biasa. Mereka bilang gajinya ‘sajuta’: sabar, jujur, tawakal. Tapi dari keikhlasan itu lahir pendidikan yang penuh makna. Kami akan bantu menambah ruang belajar karena jumlah anak sudah mencapai 56 orang,” tambahnya.
Sekar Anjung, mewakili Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, menuturkan bahwa Tamasya An Nisa lahir dari kepedulian masyarakat terhadap anak-anak petani di daerah tersebut.
“Awalnya para ibu kebingungan. Kalau mereka ke sawah, anaknya ikut dan bermain di lumpur. Akhirnya anak-anak dititipkan ke Bu Juju. Karena semakin banyak yang nitip, dibuatlah tempat penitipan yang juga memberikan pembelajaran,” katanya.
Sekar menambahkan bahwa infak Rp500 per hari bersifat sukarela sebagai bentuk partisipasi orang tua.








