“Kemudian, ibu hamil diberikan penyuluhan untuk memeriksakan diri secara teratur, memperhatikan asupan gizi secara baik, dan seterusnya. Ibu bersalin dan ibu nifas juga menjadi binaan kita. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa dilakukan secara terpadu di kampung KB,” sambung Irfan.
Lebih jauh Irfan menjelaskan, keberadaan kampung KB juga menjadi pusat gizi serta pelayanan pada anak stunting melalui hadirnya Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT). Menurutnya, BKKBN bersama para ahli gizi telah menyusun menu sehat dengan konsep produk lokal karena sekaligus memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat sendiri.
DASHAT merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga berisiko stunting yang memiliki calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta/balita stunting terutama dari keluarga kurang mampu. Melalui pemanfaatan sumberdaya lokal (termasuk bahan pangan lokal) yang dapat dipadukan dengan sumberdaya/kontribusi dari mitra lainnya.
Tak hanya itu, kampung KB juga menjadi pusat sumber daya informasi percepatan penurunan stunting di tingkat lokal melalui pemanfaatan Rumah Data Kependudukan yang kemudian dikenal dengan nama Rumah Dataku. Ini sejalan dengan konsep Rumah Dataku yang berfungsi sebagai basis data dan informasi serta pusat intervensi pembangunan di tingkat mikro wilayah kampung KB.
“Rumah Dataku tersebut dipastikan memiliki urgensi dan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat di lokasi Kampung KB. Secara konseptual, Rumah Dataku merupakan program yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan intervensi sosial berdasarkan partisipasi masyarakat dan peran strategis data. Proses ini dilakukan dengan menyederhanakan kondisi masyarakat yang kompleks ke dalam gambaran data yang kemudian melalui pemeranan atau keterlibatan kader masyarakat menyediakan skema intervensi dalam proses percepatan pembangunan, termasuk percepatan penurunan stunting, di tingkat lokal,” papar Irfan.








