Derasnya arus informasi akibat perkembangan teknologi, akan mengantarkan siswa-siswi semakin mudah dan cepat untuk belajar, mengumpulkan informasi dan data, mencoba-coba (trial and error) dalam banyak hal, bahkan terkadang tanpa pendampingan dari guru. Ini artinya, kemandirian siswa-siswi dalam belajar akan terbentuk dengan sendirinya seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, anak-anak zaman now menyebutnya tagline dan istilah tagline memang lebih terkenal di dunia pemasaran dan promosi. Maka, jangan heran bila ada siswa lebih cepat mendapatkan informasi dari pada gurunya.
“Jangan heran bila ada siswa lebih cepat belajarnya, lebih cepat pintarnya dari pada gurunya. Kemandirian ini harus dijaga, supaya tidak liar. Oleh sebab itu, dalam kondisi seperti ini, guru harus menjadi fasilitator dan motivator untuk membentuk kemandirian dalam belajar, sehingga siswa harus memiliki motivasi dan kepercayaan diri,” tegasnya.
Masih kata Taufiq, siswa tetap membutuhkan guru dan teman untuk membagi dan mendiskusikan masalahnya atau dengan orang lain saling menyemangati dan memecahkan kesulitan-kesulitannya, bisa jadi cara efektif menuju kemandirian belajar. “Artinya, jika siswa memiliki sebuah masalah, mereka bisa menceritakan ke orang lain untuk membantu mengklarifikasi masalah tersebut dan kemudian mengambil kesimpulan untuk bertindak,” tuturnya.








